KOPKARI “SEJAHTERA”


“DEWA”

Posted in Artikel oleh kopkarisejahtera pada Desember 15, 2007

Oleh: Rhenald Kasali

 Kita pernah memiliki Soekarno dan Hatta, pemimpin sekaligus pejuang yang lahir dari ujian sejarah: dipenjara, dibuang, lalu dipuja. Tapi, seperti juga pemimpin-pemimpin bangsa ini setelah mereka berdua, keduanya bukanlah tanpa kesalahan. Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati, semuanya lebih banyak dikenal karena kekurangan-kekurangannya, ketimbang kehebatan-kehebatannya. Kata Stephen Covey, manusia di era perang lebih mengedepankan character ethic (seperti kesederhanaan, kejujuran, kerja keras, pengorbanan, kerendahatian). Sedangkan pasca perang, manusia lebih mengedepankan personality ethic (seperti polesan-polesan dalam penampakan publik yang bisa kita lihat dalam iklan atau infotainment).


Setelah perang kita segera memasuki era materialisme yang dipicu oleh revolusi industri dan mendorong kita berlomba-lomba menguasai segala macam asset. Kekayaan telah dijadikan ukuran bagi suatu keberhasilan. Akibatnya hampir semua pemimpin atau keluarganya selalu saja terlibat dalam skandal-skandal bisnis, perizinan, korupsi, kolusi dan sejenisnya. Di era tekonologi informasi, segala tindakan menjadi begitu transparan dan mudah terlacak. Tindakan-tindakan para pemimpin yang berserakan dimana-mana, dengan cepat menggumpal dan dikumpulkan “pasar” menjadi sebuah mozaik. Serpihan-serpihan cacat seseorang yang tadinya tidak tampak dan tertutup oleh komunikasi-komunikasi “personality” kini terangkai sangat jelas. Ada yang bisa dibaca oleh para aktor politik dengan mudah karena tersaji begitu terbuka di media massa, tapi ada juga yang tak pernah sampai kepada mereka karena beredar melalui alat komunikasi tidak resmi seperti SMS, email berantai, gossip dan sebagainya.
Rakyat membaca semua itu tetapi tidak para pemimpinnya. Self Correction terhambat dan terfilter. Dalam bahasa ilmu pemasaran dikatakan “Informasi pasar telah dikelabui oleh informasi expert”. Maka semakin jelas, tak ada dewa di negri ini. Semua punya masalah dan kekurangan masing-masing. Bukalah hand phone yang ada disaku Anda, dan tengoklah pesan-pesan SMS yang masih tersimpan di masa pemilu kali ini. Semuanya berisi ejekan dan sindiran terhadap para pemimpin, mulai dari istilah KKN, Bencong Putih, Orang Buta dan Orang Pintar, Suami yang babak belur dihajar oleh keempat istrinya, sampai cerita tentang “hidung besar” dan “kolor hijau”.
Sekarang ini para pemimpin harus mulai menentukan mau pakai alat kontrol apa. Yang paling tua kita kenal expert control yaitu kontrol dari para staf ahli yang kita angkat di sekitar kita atau para ahli yang bicara di koran. Kemudian ada bureaucratic control, yaitu alat-alat birokrasi seperti Undang-undang dan S.O.P. (Standard Operating Procedur yang membatasi wewenang). Dan terakhir adalah market control yang tercermin dalam pemungutan suara dan pooling pendapat. Tak dapat dihindari bahwa rakyat sangat mengandalkan yang terakhir. Kalau ini diabaikan dan para pelaku politik asyik terus dengan opini-opininya sendiri (misalnya dalam kasus menolak hasil-hasil pemilu), maka mereka sendiri akan mengalami koreksi-koreksi pasar yang tidak mereka duga sama sekali.
Saya kira pasar sekarang mulai menyadari bahwa tak ada lagi dewa di negri ini, juga tak ada lagi “ratu adil” yang dulu pernah dijanjikan akan datang. Masing-masing calon presiden dari partai besar punya cacatnya sendiri-sendiri atau kekurangannya masing-masing. Demikian pula dengan pelaku-pelaku penting yang dulu mengkritisi pemerintah dan sekarang duduk dalam komisi-komisi untuk kepentingan publik. Semua punya kekurangan. Yang dikritik dan yang mengkritik sama-sama punya kelemahan. Di Bandung, seorang event organizer profesional pernah melakukan protes keras karena lahannya di Pemda diambil alih oleh anak-anak LSM. Anak-anak LSM ini dulu menyerang habis pemda dalam pemakaian anggaran dan penyelenggaraan pameran. Tetapi ujung-ujungnya mereka membentuk konsorsium dan meminta proyek. Setelah proyek didapat mereka juga melakukan penyimpangan-penyimpangan dan bekerja jauh di bawah standar. Di KPU, KPI, dan komisi-komisi lainnya saya juga melihat ada banyak aktivis yang terlibat. Kini mereka semua sedang bertempur sesama di antara mereka. Asosiasi televisi juga ribut gara-gara tivi-tivi ditegur menayangkan iklan politik berlebihan dan melanggar ketentuan dan ternyata salah. Setelah ditelusuri, data yang dipakai untuk menegur adalah data dari ISAI yaitu para aktivis yang sangat kritis. Toh juga ada salahnya.
Kita semua masing-masing punya kekurangan disamping kehebatan-kehebatan. Akan menjadi janggal kedengarannya kalau dalam mengkritisi, seseorang memakai standar intelektual yang tinggi, sementara dalam melakukan “delivery” memakai standar pasar yang “bisanya” cuma sebesar itu saja. Semua itu hanyalah cerminan betapa jauhnya kita dari pasar, dari komitmen yang kita geluti.
Sekarang mari kita lihat figur-figur calon presiden yang sudah terbaca jelas di media massa. Adakah “dewa” yang kita idam-idamkan dari mereka? Semua orang saat ini bingung. Orang yang diinginkan tak punya kemauan menjadi presiden. Yang mau jadi presiden, kurang diinginkan. Yang merasa mampu dan mau, tak didukung partai dan mengaku “kurang gizi”. Sudah hampir dapat dipastikan pemilihan presiden akan menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa yang berbeda dengan pemilu parlemen. Sekarang apa lagi yang masih bisa mereka jual?
Suatu yang pasti, dalam manajemen, disadari tak ada “dewa” yang mampu mengatasi semua persoalan, demikian juga manusia yang separuh dewa (demigod). Seorang CEO atau presiden tidak bekerja dalam vakum, tidak sendirian. Ia bisa saja seorang biasa dengan segala kekurangannya. Tetapi ia bisa saja berhasil kalau ia memiliki komitmen dengan dukungan team yang sama-sama punya komitmen kuat. Maka yang masih bisa mereka “jual” nanti bukan lagi figur masing-masing calon (personality ethic), melainkan team yang akan mereka bawa dalam membangun bangsa ini. Orang-orang yang menjual dengan cara yang sama seperti pemilu legislatif, maksimal hanya akan memperoleh 80% dari suara yang diperoleh partainya kemarin. Tetapi mereka yang pakai cara baru ini, jujur mengungkapkan siapa saja yang akan duduk dalam team yang akan datang, dapat mengumpulkan energy yang luar biasa. Di situ akan tampak pula apakah betul mereka indecisive (ragu-ragu) atau punya keberanian yang ditunggu-tunggu. Sebab “dewa” yang ditunggu-tunggu sesungguhnya memang tidak ada. Marilah kita terima segala kekurangan yang ada pada diri setiap orang dan mulai mengandalkan spirit of team work.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: